CINTAKU DI NEGERI SAKURA (( 1 ))
16:50 Posted In Sakura Vol
Nanik listyorini… itulah nama aku. Aku lahir dari keluarga yg bisa dikatakan cukup lumayan dari segi ekonomi untuk ukuran kota kecil Wonogiri. Lahir dari keluarga muslim dan mengenyam pendidikan di sekolah islami pula membuat aku dikenal sebagai orang baik-baik dan terpandang. Kulalui masa sekolahku dengan gembira… dan seperti layaknya remaja pada umumnya aku mulai mengenal apa yang namanya jatuh cinta... cinta monyet gitu istilahnya… aku seringkali menerima surat cinta… ada yang datangnya dari kakak kelas… dari temenku sekelas… dan juga temen beda kelas… bahkan pernah juga saudara dari ayahku mau menjodohkan keponakannya sama aku… tapi alhamdulillah orang tua aku tidak langsung mengiyakan… mereka menyerahkan semuanya pada anak- anaknya... orang bilang aku cantik, mulus tinggi semampai… sampai guru bahasa inggris aku aja jatuh cinta sama aku... sering banget jika ujian… diatas kertas nilai aku ditulisi WO AINI... ada temen aku yang tahu soal itu... gara- gara hal itu mereka sering godain aku… lucu ya.Sebenarnya aku sudah punya tambatan hati. Dia kakak kelasku… namanya mas Heru. orangnya biasa, gak terlalu ganteng juga gak terlalu jelek… hidungnya mancung… matanya lebar. Dia baik banget…. kami saling mencintai… semangatnya luar biasa… hal itu yang membuat aku kagum dengannya… dia energik dan berotak cerdas serta baik hati… kami telah berjanji apapun yg terjadi dan sampai kapanpun kami akan tetap saling mencintai… kami bertekad akan mewujudkan impian kami yaitu menikah dan hidup bahagia setelah lulus kuliah nanti. Tambatan hatiku atau akrab aku panggil mas itu diterima kerja di Jepang… kami sangat bahagia… akhirnya hari yang ditunggu- tunggu itu tiba… hari dimana kami berdua mengucap sumpah untuk membangun mahligai rumah tangga yang penuh cinta selamanya.
Tiga tahun sudah masku kerja dijepang… awalnya surat sebulan sekali datang… maklum waktu itu kita masih pakai surat… gak seperti sekarang pakai handphone yang sudah sangat lumrah dan murah… aku tetap setia dan berpikir positif dalam mengahadapinya… kami telah terikat janji suci untuk setia apapun yang terjadi.
Waktu kian terus berjalan… hari berganti hari… tahun berganti tahun… tak terasa empat tahun sudah masku bermukim di Jepang. Tak pernah lagi berkirim surat… kabar dan beritanya hampir boleh dikatakan telah tiada. Hatiku was- was penuh cemas… dimanakah gerangan pujaan hati ini… apakah mas Heru baik- baik saja? Apa yang telah terjadi padanya? Mungkinkah mas Heru telah lupa akan janji- janjinya? Pikiran aku berkecamuk… perasaan duga- menduga mulai menguat… mas Heru apakah kamu telah melupakan diri ini… ya Allah akankah aku kehilangan separuh hatiku… andai mampu… kan kususul pujaan hatiku
Teman- teman aku tidak percaya kalau mas aku di Jepang masih sendiri. Namun aku tetap percaya mas Heru apapun kata orang… aku masih tetap setia untuk tetap menunggunya sampai kapanpun… kareena kami telah berjanji untuk saling setia dan akan mewujudkan impian kami... aku bertekad akan tetap menunggunya sampai kapanpun... karena dia pergi untuk kebahagiaan kami... usiaku memasuki 25 tahun... kata orang sudah waktunya menikah... hati aku sedih banget rasanya... Ya Allah sampai kapan penantian ini…. Hari berganti hari… bulan berganti bulan…. Dan tahun berganti tahun… akhirnya orang tua aku yang semula bersikap santai dan percaya pada aku sepenuhnya… akhirnya terusik juga… apalagi setelah ada teman bapak aku yang mengatakan pada bahwa anaknya telah jatuh hati pada aku semenjak aku masih duduk dibangku SMP... dia seorang dokter
Menginjak usia aku yang ke- 26…. orang tua aku tidak tahan lagi... takut aku menjadi perawan tua katanya… setiap hari aku merenung dan menangis aku harus bagaimana… mas Heru seandainya ada kabar darimu…. Aku tidak punya kuasa lagi menolak keinginan orang tua… dengan terpaksa akhirnya aku menerima keinginan orang tua aku untuk menikah dengan pilihan mereka… hari yang ditentukan itupun tiba... aku menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai… pupus sudah penantian aku.
Hari- hari pertama aku menikah aku masih terus merasa bersalah sama mas aku yang di Jepang…
Tweet Bagikan




