CINTAKU DI NEGERI SAKURA (( 2 ))

15:20 Posted In
Aku lalui hari- hari aku seperti layaknya keluarga pada umumnya. Hari- hari aku sebagai ibu rumah tangga. Aku hamil anak pertamaku, suami aku sangat bahagia. Dia makin sayang padaku. Lahirlah anak aku yang pertama perempuan. Sekarang dia telah menginjak kelas 5 SD. Banyak orang melihat aku telah bahagia padahal aku sendiri bingung dengan perasaan aku. Tetapi aku tetap berusaha menjadi istri yang baik untuk suami aku. Suami aku suami yang baik yang diidam- idamkan semua wanita. Hidupnya telah mapan dan orangnya bertanggung jawab.
Sebagai suami istri hal yang wajar jika kita saling berbagai cerita tentang masa lalu masing- masing hingga akhirnya suami aku menyakan pengalaman cinta aku dimasa lalu. Sebenarnya suami aku sedikit banyak telah tahu tentang hubungan aku dengan mas aku yang di Jepang, mungkin ia ingin mendengar langsung dari mulut aku. Sambil bergurau aku berkata bahwa jika mas aku pulang kami akan bersama lagi. Suami aku hanya tersenyum mungkin pikir suami aku itu hanya gurauan padahal demi tuhan maafkan aku keinginan itu masih selalu ada. Aku merasa amat berdosa pada suami aku… ya Allah bantu hamba- Mu ini.
Waktu terus berjalan 9 tahun sudah pernikahan aku. Aku hamil lagi anak kedua aku. Karena suami aku kasihan aku hamil nanti capek. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari seorang suster untuk membantu aku mengurus anak- anak. Anak kedua aku lahir… laki- laki sangat ganteng. Lengkap sudah kebahagiaan keluarga aku. Keluarga yang harmonis, mertua aku maupun orangtua aku sangat sayang pada cucu- cucunya. Segalanya berjalan mulus tanpa hambatan anak laki- laki aku sudah mulai masuk Taman Kanak- kanak, aku bertambah sibuk mengurus suami dan anak- anak tercinta aku. Untung aku dibantu suster yang rajin dan mengerti dengan baik akan segala tugasnya.
12 tahun sudah aku berumah tangga dengan Mas Alim dan tiada terpikir oleh aku bahwa ternyata sebentar lagi mas aku yang di Jepang akan pulang.
Kala itu bulan november, hujan kerap turun dengan derasnya… bunga- bunga ditaman bermekaran dengan cantiknya. Disuatu pagi nan cerah setelah aku melakukan rutinitas aku sebagai seorang ibu mengantar anak- anak ke sekolah dikejutkanlah aku oleh panggilan dari suara seseorang yang amat aku kenal. Lis, begitu suara itu menyapa aku… hanya satu orang yang memanggil aku dengan panggilan khas seperti itu… kemudian aku menengok ke arah datangnya suara.
Sejenak aku terhenyak dan terpaku hampir tak bisa bicara. Aku hanya mampu berguman dalam hati, ya Allah… dia telah kembali… orang yang selama ini aku nanti- nanti telah pulang… bahagia dan amarah bercampur aduk jadi satu.
Sekejap aku tersadar, aku berusaha menguasai diri… biar bagaimanapun sekarang keadaannya telah berbeda. Tidak banyak yang berubah dari sosok itu… hanya rambutnya kini sudah banyak yang memutih... aku tak mampu banyak bicara… mulut aku serasa terkunci... lidah akupun terasa kelu… perlahan tapi pasti air mata mulai mengalir dari pelupuk mata aku… aku tak kuasa menahannya.
Lis maafkan aku… kamu masih tetap cantik seperti dulu. Lis… lanjutnya, namun sejurus kemudian aku lari menjauh darinya… tak tahu harus berbuat apa... hati aku sedih… hancur… sakit sekali… aku tak ingin bertemu lagi dengannya… terbayang kembali memori masa lalu.
Aku tak berani menceritakan kejadian pagi itu pada suami aku… aku berusaha menutupinya rapat- rapat.
Hampir seminggu selanjutnya aku menyuruh suster yang mengantar dan menjemput anak- anak. Suami aku sempat curiga namun aku selalu mampu menyakinkannya dengan berbagai alasan. Setelah aku merasa tenang aku kembali memberanikan diri untuk melakukan rutinitas aku seperti biasanya. Tapi apa mau dikata rupanya ms Heru masih berusaha menemui aku. Tapi kali ini dia hanya memberi aku sepucuk surat sembari berkata ‘aku datang menjemputmu’ lalu bergegas pergi.
Aku buka surat itu dengan hati berdebar- debar… tersurat kisah akan perjuangannya di negeri sakura.
Setelah 3 tahun disana ia telah menjadi seorang pengusaha yang sukses… niat hati ingin segera pulang ke Indonesia menjemput pujaan hati namun takdir berkehendak lain. Dia terjatuh sakit hingga harus mendapat perawatan khusus dan lama… bahkan ia harus rela melepas usahanya untuk biaya berobat. Hampir setahun dia berbaring ditempat tidur melawan penyakit dan dokter mulai angkat tangan… tak mau jadi tanda tanya ternyata selama ini ia kerap berkirim surat kepada aku… namun ternyata pihak keluarganya selalu menahan surat itu dengan alasan demi kesembuhannya… Tuhan maha adil, entah keajaiban apa yang diterimanya menginjak tahun kedua sakitnya ia mulai membaik… ia bercerita akulah keajaiban itu…. Akulah yang membuat ia bertahan dan berkeyakinan harus sembuh.
Setelah sembuh total ia kembali bertekad membangun usahanya tanpa mengkhawatirkan aku karena telah percaya akan kesetiaan cinta aku. Surat aku buah karya keluarganya telah cukup menyakinkannya. Hari berganti hari dan akhirnya tahun berganti tahun… sedikit demi sedikit akhirnya ia mampu meraih kesuksesannya kembali.
Tiba saatnya dia untuk melaksanakan impiannya selama ini untuk memboyong aku ke Jepang. Akan tetapi betapa terpukulnya ia setelah mengetahui kebenaran akan kenyataan yang aku alami.
Kini ia pulang ke Indonesia hanya ingin mempertegas bahwa begitu besar rasa cintanya pada aku… tak akan tergantikan oleh siapapun sampai ujung waktu.

~ Lis aku akan selalu mencintai kamu sampai maut menjemput aku ~

Begitu bunyi penutup surat itu.

image by phototravels.net
Bagikan

Postingan lainnya